Merawat Mimpi Juara Sembari Berbenah

Madura United FC - Rasiman, sudah bergabung dengan Laskar Sape Kerrab, sebutan Madura United, sejak pertengahan musim 2018 lalu sebagai asisten pelatih.

Kini, pria itu telah ditunjuk sebagai pelatih kepala Madura United. Sebelumnya, dia sempat  melatih klub asal Malaysia T-Team.

Sejatinya, Rasiman sudah akrab dengan Madura. Utamanya, saat membersut Perseba Bangkalan. Posisi sebagai pelatih kepala di Liga 1 adalah hal baru baginya.

Apa dan bagaimana setelah ditunjuk pelatih kepala, berikut wawancara khusus dengan Rasiman.

Bagaimana awal berlabuh ke Madura United
di paruh musim 2018?

Saya dapat tawaran dari Pak Haruna Soemitro (Manajer Madura United) untuk membantu Cach Gomes de Oliviera yang waktu itu kembali lagi ke Madura United. Saya bersama Coach Gomes selama setengah tahun dan dilanjutkan  membantu Coach Dejan Antonic hingga delapan bulan terakhir ini.

Perasaannya Anda bagaiamana saat ditunjuk menjadi pelatih?

Mungkin tidak ada orang lain di Madura United, hingga saya akhirnya ditugaskan. Ya, mungkin pilihan manajemen,  tidak ada orang yang lebih mengerti. Itu kan yang menjadi alasan manajemen menunjuk saya sebagai pelatih.

Tapi tidak lupa, saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden (Achsanul Qosasi) dan manajer dan semua pejabat Madura United atas kepercayaan yang diberikan. Saya merasa bahwa saya bukan siapa-siapa. Jadi, Insya Allah saya tidak akan kehilangan apapun, saya hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk klub ini, berusaha menata ulang yang selama ini masih kurang baik dari pelatihan atau yang lain.

Menempatkan orang-orang yang memang profesional di bidangnya, sehingga membangun tim ini dan mudah-mudahn ini proses untuk membangun yang harmonis. Dengan proses yang kami jalani Madura United bisa lebih baik lagi.

Apa langkah selanjutnya setelah menjadi pelatih?

Kemarin sudah jelas disampaikan oleh manajer,  bahwa, pihak manajemen itu ingin tahu sebetulnya ada persoalan apa di tim ini. Apa itu dari pemain atau kepelatihan, atau dari segi yang lain. Saya hanya berusaha mengembalikan semua persoalan kepada posnya masing-masing. Bagaimana me-manage pemain tetap di top level.

Kedua, mungkin lebih memperkuat keilmuan olahraga, sehingga kasus cedera yang sampai menimpa 8 pemain, tidak terjadi lagi di tim ini, agar  tidak mengganggu persiapan tim Madura United ini secara keseluruhan.

Itu langkah awal yang diambil, itu dasar saya pertama untuk mendatangkan pelatih fisik. Mungkin itu bisa membantu melihat kondisi pemain kami dan mengembalikan ke top levelnya.

Semua orang yang ada di tim, akan diminta untuk profesional, artinya, kami menunjuk keepman baru agar lebih profesional. Latihan pertama saja, kami mencoba mengukur tekanan semua bola harus sama. Jadi tidak ada kasus lagi dalam latihan, misalnya terhenti karena bola kempes. Menurut beberapa orang, itu hal sepele, tapi bagi saya itu basic, karena bagaimana kami mengurus tim sebesar Madura, kalau ngurus bola tidak bisa.

Termasuk orang-orang yang mempersiapkan latihan, mereka harus datang lebih awal, paling tidak satu jam sebelum pemain datang. Jadi, tidak datang injury time seperti yang selama ini yang agak sulit kami kendalikan. Saya mulai mendisiplinkan itu dulu. Orang-orang yang bekerja di Madura harus ber-attitude profesional.

Bagaimana cara menjalankan langkah yang sudah disusun itu?

Garda terdepan itu ada pada saya yang bertanggung jawab. Tapi, saya memilih metode leading by the example, jadi memberikan contoh ke semua pemain, jadi saat semua pemain datang kami sudah siap, mereka tidak ada alasan untuk terlambat, karena pelatih akan datang 45 menit sebelum latihan minimal. Jadi tidak ada kasus lagi, mau latihan tidak siap, bola masih kempes, rompi tidak ada, tombak tidak ada. Dan menuju proses kesana, kami melakukan koordinasi setiap hari. Itu gunanya kami juga ada daily meeting.

Apa ekspektasi Anda dari upaya tersebut?

Harapan saya, dengan mengembalikan proses itu pada tempatnya hasil akan datang di belakang hari, tapi kalau proses sudah betul, tapi masih ada kekuranga, paling tidak kami tahu di mana yang kurang. Kalau proses sudah tidak betul dan tidak sesuai tempatnya, kami juga akan kesulitan untuk mengidentifikasi dimana sih problemnya.

Madura United ditarget bisa juara pada awal musim, bagaimana melihat kans dari impian itu?

Selama mimpi masih belum dilarang di dunia, kami harus tetap. Kalau kami bermimpi di langit, meskipn jatuh tetap di langit. Tapi kalau mimpi saja tidak bernai, itu hal yang tidak akan relevan dengan kehidupan ini. karena, mimpi boleh setinggi langit.

Tapi, mimpi yang tinggi itu bukan berarti kami hanya berpangku tangan, kami juga harus kerja sangat keras dan tentunya berdoa terhadap Tuhan, bahwa ikhtiar dan doa itu  lah yang penting dari proses itu.

Tapi, kalau saya, sebagai pelatih, ialah konsentrasi dari pertandingan satu ke yang lainnya. Saya harap, ini hanya memikirkan pertandingan selanjutnya saja, walaupun kami tidak bisa melupakan akumulasi pertandingan, tapi yang paling penting memenangkan pertandingan satu ke pertandingan yang lain.

Semua tim pasti akan kehilangan poin, jadi kesempatan itu masih akan tetap terjadi. Tapi, sekarang saya berusaha agar tidak kehilangan poin lagi. Itu saja targetnya, tapi nanti seperti apa perjalaan yang akan menentukan. Paling tidak, mimpi itu masih tetap dipelihara sembari membenahi diri sendiri.***