Konsisten Perjuangkan Persatuan

Madura Unted - Presiden Klub Madura United Achsanul Qosasi, tetap konsisten memperjuangkan persatuan, seperti halnya mengajak untuk tetap memperangi rasisme di sepak bola. Lantaran, dia berharap, perbedaan tetap terawat dengan baik.

Selain itu, pria yang lahir di Sumenep itu berpandangan, perbedaan itu sejatinya suatu keindahan dan suatu anugerah dari Tuhan.

“Mari hilangkan mencela perbedaan. Sebab, perbedaan itu anugerah,” kata presiden klub yang familiar disapa AQ itu.

Pria yang memiliki anak semata wayang ini juga menyampaikan, rasisme di sepak bola memiliki hukuman yang sangat keras. Dia menceritakan, saat terjadi di pertandingan, wasit akan menghentikan laga tersebut. Lalu, klub yang bersangkutan akan dijatuhi hukuman tanpa penonton dan pengurangan poin.

Bahkan, AQ menyampaikan, hukuman yang sangat tegas juga siap menanti, seperti didiskualifikasi dari keikutsertaan ajang kompetisi.

“Bahkan diskualifikasi dari keikutsertaan kompetisi apapun,” sambungnya.

Presiden Madura United ini juga menuturkan, di tim berjuluk Laskar Sape Kerrab, sejumlah pemain dengan latar belakang yang berbeda tetap bisa merawat kebersamaan dan persatuan tanpa harus saling mencelah.

Seperti musim kemarin, mulai dari pemain asal Jawa Timur, Jayapura, Sumatera, Sulawesi, dan sebagainya, melebur tanpa ada sekat di antara mereka.

Begitu juga dengan agama pemain Madura United yang bernageka macam, yakni Agama Islam, Kristen, dan Hindu.

Gelandang Slamet Nurcahyo yang sudah membela Madura United sejak berdiri tahun 2016 menyampaikan, kebersamaan dan persatuan sangat terawat di tim yang berbasis di Pulau Garam ini.

Pemain yang identik dengan nomor punggung 10 itu menceritakan, setiap pemain yang sudah pernah merasakan membela tim tersebut akan betah.

“Silakan tanya kepada pemain yang pernah ke Madura United, pasti sama jawabannya,” tandasnya.***